Review Backpack Jabar – Jateng – Yogya ( Part Singaparna )

Setelah perjalanan kira – kira selama setengah jam kami sampai di Singaparna, kampung halaman dari saudara Alam. Disana ternyata kami tertipu lagi, rumah omnya Alam yang “kota” ini terdampar di tengah desa. Sebenernya rumah neneknya yang jaraknya dekat, hanya perlu berjalan kaki itu cukup desa, namun karena takut gak cukup akhirnya kami diungsikan di rumah omnya yang dokter itu.
makan bakso

Setelah sampai kami beristirahat sejenak, lalu kami memutuskan untuk makan bakso di dekat rumah itu. Lumayan lah buat menghilangkan lapar, setelah itu kami memutuskan untuk berkeliling ke sawah yang ada di sekitar sana, bener – bener mantap dah. Setelah puas berkeliling kami memutuskan untuk memancing di balong milik keluarga Alam. Dimulai dengan mencari cacing di sekitar kandang kambing, sampai berebutan pancing yang jumlahnya hanya tiga buah itu.

cari umpan di sekitar kandang kambingmemancing gaya anak itb
Sore itu kami memancing sampai adzan maghrib tiba, karena bergilirin pancingan, maka sambil menunggu kami sebagai mahasiswa institut yang mungkin sering disebut “jago teori” mulai tidak sabar untuk saling berkomentar bagaimana harusnya memancing, tapi setidaknya kami mendapat hasil yang cukup untuk makan malam. Wah mantap banget dah makan ikan hasil pancingan sendiri.

makan ikan pancingangak kebagian bantal

Dan ini merupakan malam pertama dari kegiatan backpacking kami, setelah makan, sambil merenggangkan otot yang lemas kami pun bercengkrama sambil main uno. Sebagian ada yang tidur diatas dan sebagian diatas, lalu setelah lelah maka kami pun tidur dengan nyenyak.

rumah omnya Alam

Keesokan harinya baru terasa kalau mandi itu lama, walaupun ada dua kamar mandi, ternyata dari ada yang mandi jam 6, baru pada beres jam 9. Setelah itu kami makan pagi yang tentunya dengan ikan lagi. Setelah itu kami berangkat dengan menggunakan angkot menuju terminal indihiang, Tasikmalaya. Karena hari ini adalah hari jumat maka kami memutuskan untuk beribadah sholat jumat di terminal, setelah sholat, kami makan siang di sekitar terminal.Dan ternyata setelah sholat karena rombongan kami sangat mencolok dengan barang yang mungkin beratnya sama dengan tas ophi yang 13 kilogram. Alhasil kami pun dikerubungi para calo bus, walaupun kami berdalih ingin makan dulu, ternyata kami tetap dianggap madu yang sangat menggiurkan.

menguasai bus

Setelah makan ternyata kami masih ditunggu , ya apa boleh buat kalo harga cocok kenapa gak, dan ternyata kami ditawari bus mandala tujuan purwokerto dengan harga Rp 30.000. Kayanya untuk bus ac ekonomi harganya lumayan ok. Namun ketika akan naik bus itu, kami tidak tau kalau ada sistem per jam untuk keberangkatan bus. Dan saat itu pukul 1 lewat 5, Dan kami pun menjadi bahan rebutan, yang mungkin bisa juga disebut perkelahian, tapi ya begitulah hidup memang keras Bro, untuk mencari sesuap nasi pun begitu sulit.

About gilangpamungkas

gilangsibolang

Posted on 27 October 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: