This is Why I Love Tourism

Wisata!ya kata itu sangat menginspirasi saya, entah mengapa setiap mendengar, membaca, atau berdiskusi timbul semangat 45 di dalam benak saya untuk terus berfikir, berimajinasi, dan sampai-sampai di masa UAS seorang yang katanya mahasiswa Institut Terbaik Bangsa yang akademik adalah prioritas nomor satu, lebih banyak memilih untuk membaca halaman demi halaman majalah National Geographic Traveler edisi koleksi yang itupun saya pinjam dari seorang kawan yang juga sama-sama super sekali tertarik dengan wisata dibanding dengan membaca fotokopian catetan milik teman-teman saya yang rajin mencatat waktu kuliah atau baca beratus-ratus slide mengenai pengembangan wilayah atau sistem informasi perencanaan. Ya sebenarnya tidak ada yang salah dengan slide-slide itu, mungkin karena memang magnet wisata telah mampu menarik gelombang pikiran didalam otak saya kali ya.

Pada dasarnya memang banyak orang yang senang melakukan aktivitas jalan-jalan atau rekreasi, kecuali yang mungkin ada saja yang workaholic atau mungkin urat kesenangannya udah putus kali ya. Kesadaran “kegilaan” akan pariwisata ini mungkin terbentuk karena seringnya tinggal berpindah di dalam hidup saya.Dimana ketika itu saya yang lahir di bogor yang lahir dari percampuran antara keturunan jawa dengan sunda yang sebenarnya sangat banyak juga teman sesama “JANDA” jawa sunda  di negeri ini, tinggal berpindah-pindah, dari lahir sampai berumur tujuh tahun di Bogor, kemudian karena adanya pembukaan pabrik baru di kalimantan dari satu merek semen yang menjadi tempat kerja ayah saya ketika itu di Bogor. Maka ayah memutuskan untuk berpindah kesana, tidak tahu juga motif yang jelas sampai saat ini mengapa kami sekelurga pindah kesana,karena memang tidak penting lah itu bagi saya, Yang jelas saya tidak menyesal pernah tinggal di kalimantan.

Sebelum saya pindah ke kalimantan, sambil mengurus kepindahan kesana, saya diungsikan ke kelurga besar di Jember, Jawa Timur selama dua bulan. Disana sempat ikut belajar di SD setempat selama dua bulan biar ga ketinggalan pelajaran katanya. Kemudian  di kalimantan tinggal di Batulicin sampai dengan kelas 4 SD, lalu agar tinggal lebih dekat dengan pabrik ayah memutuskan untuk berpindah ke dekat pabrik, karena selama ini beliau harus bertindak sebagai seorang commuter dengan perjalanan Bus pabrik kurang lebih satu jam dari pabrik ke rumah. Kemudian kami pindah ke desa tarjun, di Kabupaten Kotabaru, cukup lama saya menghabiskan masa kecil disana sampai dengan lulus SMP. Kemudian untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah lanjutan atas, sebenarnya saya tidak ingin berjauhan tinggal juga dengan orang tua, namun pilihan sekolah yang ada pun yang terdekat sejauh setengah jam perjalanan dengan menumpang truk kelapa sawit,truk semen, ataupun bus karyawan yang kalau kebetulan melintas bisa kami tumpangi. Sehingga orang tua pun memutuskan untuk mengirim saya SMA di Bandung, karena kakak pertama saya yang sejak bayi tinggal dengan nenek, sudah berkuliah di Bandung.

Di SMA negeri 2,yang kami sering menyebut alumninya sebagai alumni charets, diambil dari ciri khas sekolah kami yang ditengahnya ditumbuhi pohon karet legendaris,yang justru rindang seperti pohon beringin yang biasa digunakan sebagai tongkrongan, saya menjalani masa-masa ini dengan biasa-biasa saja. Saya rasa culture shock perpindahan dari SMP di pelosok nunjauh di kalimantan ke SMA di kota besar seperti Bandung sedikit banyak menyita waktu penyesuain diri, dari yang disana untuk sekedar membaca koran favorit saya, Jawa Pos harus membaca edisi hari sebelumnya, karena koran-koran diangkut dengan kapal dengan jarak tempuh sehari semalam atau dengan pesawat tetapi ketempat saya masih harus perjalanan darat 7-8 jam, untuk browsing internet biasanya saya main ke rumah sahabat saya yang kebetulan anak dari petinggi pabrik yang dirumahnya sudah terpasang sambungan internet menggunakan satelit. Meskipun begitu kawan saya yang orang asli kalimantan lebih berat lagi, untuk sekedar menonton film kartun doraemon pun seringkali mereka datang kerumah saya pagi-pagi, agar dapat menonton film, karena rumah kawan-kawan saya ini bukan di komplek pabrik, yang listiknya hanya menyala dari pukul 6 sore sampai 6 pagi. Sementara di Bandung, anak-anak setelah pulang sekolah ke warnet,main game online seperti RO atau Dota atau juga ke mall menonton bioskop.

Perbedaan-perbedaan ini yang kemudian menginspirasi saya untuk banyak belajar bahwa Indonesia bukanlah selebar daun kelor seperti istilah yang sering kita dengar. Bagian Indonesia dengan bagian lainnya tidaklah sama, bahkan seringkali lain dunia. Diakhir semester pertama SMA, saya yang memang menyukai jalan-jalan dari mulai bersepeda mencari pohon kelapa gratis dari perkebunan setiap akhir pekan, yang gratis dimakan jika dimakan didalam kebunnya, karena tidak ketahuan oleh sang empunya, memilih untuk mengunjungi orang tua dan kawan-kawan yang masih dinas disana. Entah mengapa saya merasa sangat menikmati perjalanan sendiri di umur saya yang ketika itu masih 15 tahun menempuh perjalanan sendiri Bandung-Jakarta-Banjarmasin-Kota Baru sejauh sekitar lima belas jam perjalanan dengan berganti-ganti moda sendirian. Begitu percaya dirinya saya ketika itu, tanpa takut berfikir macam-macam tersarar atau diculik, atau apapun hal buruk yang akan terjadi. Dan memang tidak sulit untuk pulang pergi Bandung-kalimantan-Bandung sendirian di usia itu, menurut saya. Saya tidak takut untuk bertanya di jalan, mengobrol dengan supir, ataupun numpang ke toilet di perjalanan.

Keberanian ini yang kemudian selalu menjadi patokan saya dimasa-masa yang akan datang. Dengan tinggal di kota Besar seperti Bandung memang informasi hobi dan kegemaran yang kita cari, dengan mudahnya kita dapat. Masa saya takut untuk naik kereta ekonomi berkeliling jawa atau masa saya takut ke lombok naik kereta,bus,sambung dengan kapal daripada saya harus melepaskan keinginan untuk melihat keindahan pantai di pulau Lombok yang terkenal itu?atau saya takut mendaki gunung gede pangrango yang telah dijelajahi ribuan orang?TIDAK TENTUNYA.

Cerita perjalanan-perjalanan wisata ke tangkuban perahu dan wisata sekitar lainnya mungkin tidak perlu dishare terlalu jauh, karena yang dilakukan di SMA tidak banyak perjalanan yang saya lakukan sendiri maupun bersama kawan-kawan karena waktu liburan biasa saya gunakan untuk pulang berkumpul bersama keluarga. Mungkin yang bisa saya lakukan untuk memuaskan hasrat berjalan-jalan adalah dengan touring ke Subang, atau liburan kelas dengan hiking bersama atau ke pantai Santolo, Pameungpeuk Garut.

Di masa perkuliahan, saya banyak bertemu dengan keberagaman indonesia di kampus tercinta ini. Masing-masing kawan membawa kebanggaan dan cerita daerahnya masing-masing, semenjak itu saya bertekad untuk menjejakan kaki saya di kampung halaman meraka masing-masing dalam rangka menghargai dan menikmati tanah kampung mereka yang dibanggakan itu.  Disamping itu saya bertemu dengan teman-teman yang memang sedikit banyak punya keinginan untuk menghabiskan libur kuliah yang TIGA BULAN itu dengan berjalan-jalan. Semakin sadar saya bahwa kesempatan liburan panjang ini hanya bisa didapatkan dimasa-masa kuliah, semakin sering pula saya browsing, membuat rute perjalanan wisata ketika kuliah, ataupun mengajak teman-teman sekelas untuk ikut perjalanan yang saja jamin tidak akan pernah terulang. Mengenai perjalanan keliling pulau jawa yang sudah saya post dulu sekali,sebelum blog ini mati suri nampaknya tidak perlu panjang lebar lagi saya ceritakan, tetapi disitu merupakan perjalanan pertama saya membawa sepasukan mahasiswa yang memang berserah diri saya arahkan kemana tujuannya, menggunakan kendaraan apa, makan dimana, dan bahkan mengikhlaskan seribu rupiahnya buat tiket kereta ekonomi saya. Dari situ semakin dibukakanlah mata saya akan keindahan, akan perbedaan, akan ultimate in diversity nya negara ini. Seringkali saat ini saya bangga sendiri akan perjalanan yang saya buat, bagaimana tidak menyesalnya saya dan kawan –kawan perjalanan saya yang ketika itu sempat mengunjungi kampung Naga di Tasikmalaya, karena bukan hanya kampung ini seringkali menjadi contoh kasus di berbagai perkuliahan kami , tetapi bahkan menjadi salah satu SOAL UAS. Dengan berwisata ternyata tidak hanya mendukung hobi, pertemanan, tetapi sudah masuk ke ranah akademik, ini yang selalu saya sombongkan akan pentingnya pariwisata ke teman-teman saya.

Perjalanan-perjalanan berikutnya memang lebih banyak dilakukan bersama kawan-kawan planologi, dari mulai mendaki gunung gede, papandayan pangrango, Bali Lombok, sampai berdua ke KarimunJawa pun GW JABANIN karena sudah meletupnya keinginan untuk berwisata. Kuliah-kuliah tidak pernah lagi mencatat, mengeluarkan pulpen pun kalau sudah ada ide yang ingin dituangkan mengenai rute atau ide wisata, kalau untuk sekedar absen minjem temen sebelah aja bisa lah ya.

Ya mungkin segini dulu lah ya, perkembangan-perkembangan mengenai cita-cita mengenai wisata, bisnis wisata sampai pada keinginan menjadi menteri pariwisata besok lagi lah ya, nonton The Simpson dulu deh, cangkeul Lur!!

About gilangpamungkas

gilangsibolang

Posted on 28 June 2011, in Backpacker, Entrepreneur, Future Planner. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Halo Gilang,Tulisan Anda bagus sekali. Mahasiswa ITB juga kan ? Wah🙂

    Jika berkenan meluangkan waktu dan pengalamannya, mohon bisa dibagi di web user generated http://www.masukitb.com.

    masukitb adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB.

    Kami berharap, Anda mau berbagi dengan pelajar dari seluruh Indonesia, yang berminat masuk ITB.

    Terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: